Oleh: Irsanuddin Idrus
Bicara tentang sepak bola tidak akan ada habisnya sama halnya dengan mengembangkan sepakbola, berkaca dari negara-negara dengan sepak bola maju kita bisa melihat bahwa sepak bola tidak hanya sekedar 11 vs 11 namun, sepak bola di belahan dunia telah menjadi sebuah hiburan, life stayle bahkan cita-cita yang menjanjikan.
Barangkali sesuatu yang terlalu jauh jika kita ingin sampai kesana tetapi bukan juga merupakan hal yang mustahil untuk kita adopsi konsep-konsep yang relatable dengan resource yang kita miliki.
hal pertama yang bisa kita lakukan adalah mengidentifikasi resource yang kita miliki agar dapat menilai seberapa mungkin visi itu bisa diwujudkan, dari posisi saat ini kita memiliki beberapa resources yang menjadi modal besar untuk mengembangkan sepak bola diantaranya: Pertama, lapangan pertandingan yang representatif seperti, Stadion Gurabati, Stadion Tomagoba, dan Stadion Sangaji Jiko malofo mareku dan masih banyak lagi di daratan Oba. Kedua, kita memiliki klub sepakbalo yang eksis dan konsisiten sperti Poram Mareku, Garuda Tomagoba, Persiga Gam 8, Porto Toloa, Pusam Tomalou dan yang lainnya. Ketiga, Fanbase yang terorganisir cukup baik sperti Super Poram, Singa Kota Tomagoba, Pusamania Tomalou, Iron Man Toloa. Kempat, adalah dukungan lebaga eksekutif dan masyrakat Gila bola yang membuat api semangat sepakbola tetap menyala dan bergairah.
Resources yang telah disebutkan adalah modal yang sangat baik untuk dikelola sehingga dapat mewujudkan kompetisi yang berkelanjutan.
Tidak bermaksud mendiskreditkan kompetisi yang telah di lakukan seperti penyelenggaraan ivent oleh GOT-Gurabti, Topmen-Tomagoba, Tufen-Tugwaji, Guraping Cup dan lainnya, yang secara konsisten diselenggarakan setiap tahun. kompetisi yang ada saat ini cukup baik dalam menjadi wadah menyalurkan bakat pesepak bola, namun belum menjadi kompetisi berkelanjutan. Kompetisi berkelanjutan yang dimaksudkan adalah kompetisi yang bergulir selayaknya liga profesional namun, hanya saja adjustment lingkup dan scala dapat diwujudkan.
Best practice yang bisa menjadi acuan adalah Bandung Primier League (BPL) yang konsisten diselenggarkan. BPL merujuk pada Bandung Premier League (BPL) dalam percakapan komunitas sepak bola lokal di Bandung yang kompetisinya digagas oleh komunitas dan klub amatir yang kemudian dijalankan dengan struktur liga tetapi berskala amatir.
Olehnya itu, Bukan tidak mungkin dari kompetisi yang dikelola dengan baik akan lahir iklim sepak bola yang baik dengan pemain dan tim yang baik, dari situ kita akan bisa mengembangkan banyak hal seperti yang dilakukan BPL dan juga memugkinkan dengan iklim industri sepak bola seperti yang terjadi di negara dengan sepakbola yang telah maju, BPL membuktikan dengan dua hal, pertama penggunaan Video Asistant Referee (VAR) dan klub Riverside Forest.
Sebelum Liga profesional indonesia BRI Liga 1 menggunakan teknologi VAR di tahun 2023 BPL telah menggunakannya sejak tahun 2019 hal ini membuktikan bahwa kemajuan kompetisi sepak bola tidak bergantung wilayah dan skala yang dilaksanakan tetapi tergantung pada attensi dan manajemen penyelenggara, VAR dikenalkan pertama kali di tahun 2016 di Belanda setalah itu di adopsi secara internasional pada piala dunia 2018 di Rusia dan Bandung Primer League menggunakannya di tahun 2019, artinya bahwa hanya butuh waktu 3 tahun untuk di adopsi pada kompetisi regional.
Reiverside Forest tim Bandung baru saja menjuarai liga 4 oktober lalu, tim dengan ideologi punk ini lahir dari komunitas pecinta bola di bandung dan bukan tidak mungkin suatu saat kita akan melihat Riverside forest akan tampil di liga 1 jika dilihat dari konsistensi manajemen yang di dijalankan. itu artinya bahwa tidak ada mimpi yang tidak mungkin, terlebih eksistensi dan konsistensi klub lokal serta fanatisme dan fanbase yang sudah terorganisir cukup baik yang kita miliki saat ini.
Klub yang eksis dan fanbase yang terorganisir menjadi goodwill terbaik bagi industri sepak bola, karena dari hubungan keduanya bisa mengahsilkan manfaat ekonomis dan sosial sepak bola, buktinya baik liga profesional dan turnamen amatiran sangat bergantung pada tim dan fanbase (penonton) baik secara ekonomis maupun budaya.
Sayangnya yang mampu kita eksploitasi masih dari sisi budaya sedangkan dari sisi ekonomi masih banyak area yang belum di eksplor, hal ini dibuktikan dengan klub dan turnamen amatir semakain bergengsi yang kita miliki namun dengan cost yang besar dan ketergantungan pada momentum namun secara ekonomis tidak terdistribusi secara porporsional di unsur-unsur satu pertandingan sepakbola. Sisi budaya yang dimaksudkan seperti yang telah penulis uraikan sebagai resources. Ekploitasi ekonomis yang penulis maksuskan akan penulis uraikan di kesempatan yang lain.
Askot sebagai lembaga eksekutif Sepakbola kita harapkan mampu menjembatani hal ini agar bisa kita wujudkan, kapan?, sekarang tidak bisa nanti nanti karena kita berharap tidore suatu saat mentas kembali dalam sepakbola nasional.
Kita wajib optimis bahwa, sangat mungkin kita dapat wujudkan dengan dukungan perkembangan teknologi informasi yang ada saat ini, sehingga memungkinkan kita mengakses informasi secara global untuk kemudian diadopsi dan disesuaikan dengan resource yang kita miliki. Selanjutnya, Antropologi sepakbola kita juga sangat memungkinkan kita untuk dapat mencapai sebagaimana yang telah di capai oleh bandung dengan penyelenggaraan BPL-nya dan bahkan lebih dari itu.
Dari buku “mengapa sebelas lawan sebelas” karya Luciano Wirnicke kita belajar bahwa Sepak bola menjadi olahraga dunia bukan karena sejak awal dirancang sempurna, tetapi karena mampu beradaptasi dengan zaman dan diterima luas oleh masyarakat.
Tantangan saat ini adalah sinergitas unsur-unsur kompetisi sepakbola untuk memiliki satu konsepsi bahwa unsur-unsur pertandingan sepak bola seperti pemain, klub, kompetisi, wasit, merupakan hubungan simbiosis mutualisme yang mutlak.
















Discussion about this post