Khotbah di Masjid Raya Weda, Ini yang Disampaikan Kepala SMPN 1 Halteng

Maluku Utara144 views

AKSESNEWS.COM, WEDA – Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Halmahera Tengah, Rusli B.M Dji Husin menyempatkan diri berkhotbah pada salat Jumat di masjid Raya Weda, Jumat (18/22).

Dalam kesempatan itu, Rusli menyampaikan khotbah dengan judul muhasabah bulan Sya’ban untuk menyambut Ramadhan.

Diawal khotbah, Rusli mengajak kepada seluruh jamah untuk senantiasa menjaga ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala dengan melaksanakan segala yang di perintahkan dan menjauhi segala sesuatu yang telah di larangnya dengan penuh keikhlasan, kesadaran dan keinsafan.

“Sebab hanya dengan takwalah jalan yang kita lalui untuk mendekat kepada Allah subhanahu wata’ala dan mencapai kebahagiaan dunia maupun di akhirat, seperti yang difirmankan Allah dalam Yunus 63-64, yang artinya (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa (63). Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (ketetapan dan janji) Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung (64),” kata Rusli.

Rusli lalu menguraikan khotbah nya dengan membacakan satu hadits nabi bahwa Sahabat Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam yang arti dari hadits tersebut yakni, “Usamah bin Zaid mengatakan: aku tidak pernah melihatmu berpuasa di bulan-bulan (dalam setahun) Sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban? Maka Rasulullah menjawab:”Bulan tersebut (Sya’ban) adalah bulan yang dilalaikan banyak manusia, (Sya’ban) adalah bulan diantara Rajab dan Ramadhan, ia adalah bulan diangkatnya amalan manusia kepada Rabbul A’lamin, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan berpuasa” HR Ahmad, Abu Dawud dan Nasa’i, dan sanadnya dikuatkan oleh sebagian ulama, diantaranya Al-Mundziri, Ibnu Hajar dan Al-Albani.

Rusli pun menyampaikan bahwa saat ini kita telah berada di gerbang bulan Ramadhan yaitu bulan Sya’ban, hanya berjarak beberapa hari dari bulan yang mulia Ramadhan, seyogyanya, bulan ini adalah bulan untuk bersiap dalam menyambut datangnya bulan ibadah tersebut, dengan persiapan diri lahir dan batin untuk bermujahadah dalam beribadah di bulan Suci Ramadhan.

“Namun terkadang bulan ini sering dilalaikan oleh sebagian kaum muslimin di berbagai wilayah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits diatas, dengan gamblang mengatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia. Dalam hal ini para ulama mencoba menganalisa faktor penyebab bulan ini dilalaikan, diantara penyebabnya adalah: karena bulan ini terletak di antara dua bulan yang mulia, yaitu bulan Rajab yang merupakan salah satu bulan haram (bulan yang dimuliakan dalam islam), dan bulan Ramadhan yang merupakan bulan ibadah yang kemuliannya disepakati oleh kaum muslimin. Karena letaknya inilah bulan Sya’ban cenderung dijadikan ajang untuk mempersiapkan bulan Ramadhan, namun bukan persiapan bathin dan hati, namun persiapan lahir berupa belanja kebutuhan sebelum Ramadhan seperti bahan makanan dan pakaian serta kebutuhan-kebutuhan yang lainnya,” jelas Ketua FKUB Halteng ini.

Dijelaskan juga bahwa bulan Sya’ban adalah salah satu bulan yang istimewa bagi Rasulullah SAW, sebab bulan ini merupakan gerbang bagi bulan Ramadhan, maka beliau mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan memulai berpuasa di bulan Sya’ban, yang menjadi saksi bagi puasa-puasa Nabi Muhammad -SAW, adalah ibunda Aisyah RA yang memberikan informasi tentang hal ini kepada kita, beliau mengatakan “Dan saya tidak mendapati Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, dan saya tidak melihat beliau paling banyak berpuasa kecuali di bulan Sya’ban”. HR. Bukhari dan Muslim.

“Inilah salah satu cara Nabi dalam menyambut bulan suci Ramadhan dan mengisi hari-harinya di bulan Sya’ban, yaitu dengan memperbanyak puasa di bulan ini. Untuk itu, marilah jamah belum ada kata terlambat untuk kita berpuasa dibulan syaban ini kita siapkan diri kita sebaik-baik mungkin,” pungkasnya.

Rusli juga menambahkan bahwa berpuasa pada bulan Syaban terdapat beberapa manfaat: Pertama, Meneladani Rasulullah SAW, yang mana telah valid bahwa beliau banyak melaksanakan puasa di bulan ini, sebagaimana yang dijelaskan hadits Aisyah dan Usamah bin Zaid. Dan sunnah ini adalah sunnah yang sahih dan valid penyandarannya kepada beliau, daripada kita menjalankan ritual yang tidak berdasarkan dalil yang shahih, maka akan jauh lebih baik jika kita menghidupkan sunnah Rasulullah yang banyak di tinggalkan oleh umatnya.

Kedua, Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amalan kepada Allah, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Usamah bin Zaid yang telah kami sebutkan di atas, yang dishahihkan oleh sebagian pakar hadits, maka akan sangat mulia jika kita memanfaat momentum tersebut dengan berpuasa, sambil berharap diterimanya amalan-amalan kita dalam setahun.

Ketiga, Bulan ini merupakan bulan yang dilupakan dan dilalaikan oleh kaum muslimin, maka dengan memanfaatkan waktu-waktu yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin dengan memperbanyak ibadah di dalamnya adalah suatu kemuliaan, bahkan ada potensi untuk mendapatkan pahala berlipat, sebab “Al-Ajru ‘ala Qodri Masyaqqoh” atau besarnya pahala sesuai dengan besarnya kesulitan dan kesusahan.

Keempat, kedudukan puasa di bulan ini bagaikan pemanasan dalam sebuah kompetisi, adalah perkara yang aksiomatik artinya (suatu pernyataan yang bisa dilihat kebenarannya tanpa perlu adanya bukti). bahwa jika hendak mengikuti sebuah kompetisi olahraga ada sesi pemanasan sebelum kompetisi yang sesungguhnya berlangsung, tujuannya untuk peregangan otot agar tampil maksimal ketika kompetisi berlangsung, dan menghindari suasana “kaget” dalam anggota tubuh sehingga berpotensi untuk menimbulkan cidera dalam kompetisi, dan manfaat-manfaat yang lainnya.

Bulan Ramadhan sesungguhnya adalah bulan “kompetisi” puasanya, maka agar puasa di bulan Ramadhan lancar dan tidak ada hambatan, maka perlu latihan dan pemanasan, latihan dan pemanasannya yang dimaksud adalah berpuasa di bulan Sya’ban tersebut.

Ditambahkannya, sesungguhnya kita banyak menyaksikan orang orang Islam yang turut “berkompetisi” di bulan Ramadhan, yang hanya bersemangat dalam berpuasa di hari-hari awal dari bulan Ramadhan saja, ketika “kompetisi” telah berlangsung satu pekan, maka mulai berkurang daya juangnya, melemah kekuatannya, bahkan sebagian berhenti mengikuti “kompetisi” ibadah di bulan Ramadhan.

“Padahal sesungguhnya, diantara keunikan bulan Ramadhan, semakin bulan ini mendekati akhir, semakin tinggi keutamaannya, dan semakin besar hadiah dan pahalanya, namun banyak diantara kaum muslimin yang tidak menyadan dan tidak beruntung mendapatkannya, karena semangat dan kekuatan mereka turun drastis di aklur bulan Ramadhan, mungkin salah satu penyebabnya adalah tidak melakukan pemanasan dan latihan sebelum kompetisi berlangsung, “akunya. (ss/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *