Tingkatkan Inovasi dan Kreativitas, DPPPA Malut Olah Daun Pandan jadi Produk Bernilai


AKSESNEWS.COM, SOFIFI – Bahan baku daun pandan dapat diolah menjadi produk memiliki nilai ekonomi. Dimana daun pandan terdiri dua macam, yang berduri dan tidak berduri. Yang gampang ditemukan dan diolah adalah daun pandan tidak berduri untuk menjadi produk kerajinan tangan berupa tikar, tas, keranjang belanja, pot dan lain sebagainya.

Untuk memperkuat kemampuan
dan keterampilan para ibu -ibu rumah tangga di Desa Bibinoi, Kecamatan Bacan Timur Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Maluku Utara (DPPPA Malut) mengadakan pelatihan pembuatan tempat tisu dari daun pandan.

Dalam kegiatan ini, secara langsung mengundang dua Fasilitator dari Pandan Adiwastrajanaloka Yogyakarta, Dony Permana dan Wulan Rusanti untuk membimbing sebanyak 25 orang peserta yang merupakan ibu – ibu terpilih dengan memiliki kemampuan kerajinan tangan berupa kenyamanan.

Kegiatan yang diikuti oleh masyarakat setempat khususnya ibu-ibu itu dilaksanakan di Gedung serba guna Desa Bibinoi, Kabupaten Halmahera Selatan yang dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas PPPA Malut, Hj Musrifah Alhadar.

Amatan dilokalisasi, kegiatan yang berlangsung tersebut mendapatkan antusias yang positif dari masyarakat sekitar. Hal itu bisa dilihat dari tingkat antusias para peserta yang menikmati kegiatan pelatihan tersebut.



Musrifah Alhadar mengatakan, pelatihan keterampilan bagi ibu -ibu di Desa Bibinoi dalam rangka mewujudkan Daerah Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) di desa yang terpilih di Malut dan hari ini khususnya di Kabupaten Halmahera Selatan.

Selain mengadakan pelatihan, ini juga diharapkan bisa memberikan pemahaman bagi masyarakat desa untuk mendampingi pemerintah desa dalam pelaksanaan pengarusutamaan gender (PUG) dan perlindungan anak dalam pembangunan desa serta meningkatkan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya PUG dan perlindungan anak yang difokuskan pada upaya pencapaian
hasil pelokalan Sustainable Development Goals (SDGs) Desa.

“Tujuan kami adalah selain meningkatkan keterampilan, Kami juga berupaya untuk memastikan penyelenggaraan pembangunan desa memperhatikan kebutuhan hidup, kelangsungan hidup, dan kepentingan terbaik bagi perempuan dan anak tanpa diskriminasi, “katanya.

Memperkuat pemahaman tugas, peran dan meningkatkan kapasitas pemerintah desa dan mitra pembangunan dari masyarakat, media massa, dan dunia usaha dalam upaya mewujud kan pembangunan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak.

Teridentifikasi dan terbentuknya model Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak yang sesuai dengan konteks dan kondisi Desa yang difokuskan pada upaya pencapaian SDGs Desa

Teraplikasinya atau meluasnya beragam praktek baik terkait pengarusutamaan gender dan perlindungan anak yang difokuskan pada upaya pencapaian SDGs dari lokasi Desa percontohan ke Desa-Desa non lokasi percontohan.

Terwujudnya Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak di seluruh Provinsi Maluku Utara, yang sesuai dengan konteks dan kondisi Desa yang difokuskan pada upaya pencapaian SDGs Desa.

“Kami berharap adanya kegiatan pelatihan ini bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar, dan bisa lebih meningkatkan skill anak muda dalam meningkatkan pendapatan UMKM daerah, “ujarnya.

Sementara, Fasilitator dari Pandan Adiwastrajanaloka Yogyakarta Wulan Rusanti mengatakan, pelatihan ini dilakukan agar para ibu-ibu bisa memiliki keterampilan untuk membantu peningkatan ekonomi keluarga.

Dimana berdasarkan riset, kata Wulan, ketika ekonomi keluarga belum tercukupi maka disanalah sumber kekerasan rumah tangga. Untuk itu harapannya adalah ketika para ibu punya keterampilan maka mereka bisa ikut mendukung kemapanan ekonomi keluarga sehingga kekerasan terhadap perempuan di rumah tangga bisa diatasi.

Kemudian, Fasilitator dari Pandan Adiwastrajanaloka Yogyakarta, Dony Permana juga menambahkan, pelatihan tersebut merupakan salah satu gerakan untuk merawat seni tradisi anyaman daun pandan agar tidak punah.

Seni tradisi anyaman daun pandan Ini juga merupakan salah satu gerakan untuk mengarah pada desa ramah lingkungan. Dimana sebelumnya melakukan kegiatan diawali dengan pengajaran terkait etika lingkungan untuk mengurangi plastik dan mengunakan barang barang dari anyaman daun pandan.

“Kita berharap, kedepannya desa Bibinoi bisa jadi desa yang terus menjadi desa ramah lingkungan, “harapnya.

Selain itu, kami berharap pemerintah daerah bisa ikut menyerap karya-karya yang dibuat oleh para ibu-ibu, sepertinya hari ini yang berhasil dibuat melalui pelatihan adalah pembuatan boks tisu. Dukungan pemerintah daerah yaitu dengan cara membeli agar bisa menyerap produk produk dari Bibinoi yang ramah lingkungan.

Ia juga berharap dukungan pemerintah daerah. Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak mungkin terwujud tanpa adanya kolaborasi. “Jadi untuk mewujudkan desa ramah perempuan dan ramah anak serta desa mandiri dan desa ramah linkungan sangat dibutuhkan dukungan banyak pihak”.

Terpisah, Kepala Desa Bibinoi Munir Kasuba berharap kegiatan seperti ini tidak berakhir pada kegiatan saat itu saja, melainkan bisa menjadi kegiatan yang berkelanjutan serta dibantu agar para ibu ibu ini bisa berdaya.

Munir Kasuba bilang, ini sangat penting karena ibu-ibu harus menerima kegiatan seperti ini. Hal ini karena sudah lama tidak tersentuh ke kita, khususnya pada ibu ibu yang memiliki potensi dalam menganyam secara alami sudah ada tinggal dilakukan inovasi. Apalagi langsung di bentuk kelompok Anyaman yang di beri nama Buho Horimoi.

Untuk itu, kami sangat mendukung dan memberikan apresiasi serta terima kasih kepada pemerintah provinsi Maluku Utara dan khususnya Dinas PPPA yang telah meluangkan waktu untuk memberikan pendidikan dan pemahaman kepada masyarakat Desa Bibinoi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *